100 Persen Anggota PWI Sumbawa Sudah Kompeten dan Diakui Dewan Pers

oleh -545 Dilihat
oleh

Sumbawa Besar, NuansaNTB.id– Sejak dua tahun terakhir, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumbawa aktif mengikutkan anggotanya untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Bahkan, pada tahun 2022 lalu, PWI Sumbawa menggelar UKW secara mandiri kegiatan di sumbawa sebagai syarat agar wartawan mendapatkan pengakuan dari Dewan Pers.

Ketua PWI Sumbawa Zainuddin, SE,. dalam keterangannya, Sabtu (15/07/2023) mengatakan bahwa, saat ini PWI Sumbawa beranggotakan 33 orang.

Semuanya telah mendapatkan pengakuan dari dewan pers yang dibuktikan dengan sertifikat dan kartu UKW berhologram ditandatangani oleh Ketua Dewan Pers. Mereka juga telah tercatat dalam wabsite resmi Dewan Pers.

“Semua anggota kami sudah kompeten dan diakui oleh dewan pers. Jadi narasumber tidak perlu khawatir melayani anggota PWI Sumbawa dalam menyampaikan informasi,” ungkapnya.

BACA JUGA  Sukseskan Pemilihan 2024, KPU Sumbawa Ajukan Proposal Hibah Pilkada ke Pemkab Sumbawa

Menurutnya, sertifikasi wartawan sangat penting sebagai upaya menjadikan mereka lebih professional dalam bekerja. Khusus di Kabupaten Sumbawa, banyak oknum-oknum yang mengaku wartawan. Bermodalkan kartu pers mencari informasi, namun tidak jarang aksi mereka meresahkan.

Zain sapaan akrab CEO Samawa Rea ini, mengungkapkan, ciri wartawan abal-abal, diantaranya tidak berpedoman pada kode etik jurnalistik, meremehkan bahkan kadang mengancam dan memeras narasumber.

Sebagaimana Dewan pers selalu menekankan, agar komunitas wartawan dan pers bahu-membahu bersama masyarakat untuk memerangi praktek penyalahgunaan profesi wartawan, dengan malaporkan aktivitas-aktivitas tidak profesional yang mengatasnamakan sebagai wartawan kepada kepolisian.

”Kami tidak bisa berbuat banyak untuk menertibkan mereka, karena bukan bagian dari PWI. Tapi kami bisa menjadi pembeda dari mereka, salah satunya melalui sertifikasi,” tegasnya.

BACA JUGA  Diduga Lakukan Pungli, Oknum Kepala Desa di KSB Terjaring OTT

Kepada anggota masyarakat, perusahaan swasta, dan instansi pemerintah, ia berharap agar cermat dalam mengidentifikasi wartawan atau media, serta tidak segan-segan menanyakan identitas wartawan dan mengecek kebenaran maupun status media tempatnya bekerja. Jika tidak jelas, maka berhak tidak melayaninya atau menolak untuk diwawancarai.

“Wartawan profesional selalu menggunakan cara-cara etis dalam mencari informasi. Jadi kalua ada ciri-ciri yang saya sebutkan itu, narasumber berhak menolak,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.