Ketua PBNU : Jangan Mengatasnamakan NU dalam Pilpres 2024, Warga NU Terdidik dan Cerdas

oleh -1366 Dilihat
oleh

Sumbawa Besar, NuansaNTB.id- Informasi ditunjuknya Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar oleh Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024 mendatang menjadi perbincangan hangat dihampir seluruh media.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya meminta agar tidak ada satu pun calon presiden maupun calon wakil presiden yang mengatasnamakan NU dalam Pilpres 2024.

“Jangan ada calon mengatasnamakan NU. Kalau ada calon, itu atas nama kredibilitasnya, atas nama perilakunya sendiri-sendiri. Bukan atas nama NU,” kata Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (02/09/2023).

“Kalau ada klaim kiai-kiai NU merestui, itu sama sekali tidak betul. Selama ini tidak ada pembicaraan terkait calon presiden atau wakil presiden,” ujarnya.

BACA JUGA  Fajar Rachmat Siap Menangkan PKS dan Rebut Palu Ketua

Gus Yahya menegaskan, jika ada warga NU yang mencalonkan diri di Pilpres 2024 mendatang, maka harus berjuang lewat partai politik bukan lewat organisasi yang dipimpinnya.

Ia juga mengaku tak terima jika warga NU disamakan dengan kerbau yang bisa dengan gampangnya diarahkan. Dia menyebut persepsi itu sama dengan penghinaan.

“Cuma sekarang mindset orang itu masih banyak ‘warga NU ini kebo kebo yang disuruh ibunya kesana ke mari gampang’. Itu anggapan yang menghina sekali kepada warga NU,” ujarnya.

Gus Yahya mengatakan warga NU terdidik dan cerdas. Menurutnya, warga NU bisa berpikir mandiri dan menentukan pilihannya sendiri.

Yahya Cholil Staquf menyebut preferensi pilihan politik tidak berada dalam ranah urusan organisasi keagamaan yang dipimpinnya. Dia menyerahkan pilihan politik secara bebas kepada masing masing warga.

BACA JUGA  Batas Usia Capres-Cawapres, Ini Jadwal Sidang Pembacaan Putusan MK

Dia menyebut bahkan dirinya dengan jajaran NU yang lain memungkinkan memiliki preferensi politik yang berbeda. Menurutnya, itu adalah hak yang harus dihormati.

“Saya sendiri sebagai ketum PBNU dan teman-teman di PBNU punya sikap yang sama, kami tidak mau warga ini harus dicocok-cocok hidungnya, diseret ke sana ke mari. Enggak mau,” kata Gus Yahya. (Dilansir dari CNNIndonesia, 2/9/2023) Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.