Genris Pusaka, Prosesi Penyucian Regalia Kesultanan Sumbawa

oleh -412 Dilihat
oleh

Sumbawa Besar, NuansaNTB.id- Genris Pusaka merupakan prosesi penyucian Regalia Kesultanan Sumbawa yang terbagi menjadi dua yaitu Regalia Utama (Parewa Kamutar) dan Regalia Harian (Parewa Tokal Adat Ode) yang semuanya merupakan Lambang Kebesaran Kesultanan Sumbawa.

Regalia Utama (Parewa Kamutar) merupakan lambang kebesaran Kesultanan Sumbawa yang digunakan saat upacara.

“Tokal Adat Rea” atau upacara agung Kesultanan Sumbawa, antara lain pada saat Penobatan Sultan dan Pengangkatan Datu Rajamuda. Parewa Kamutar ini terdiri dari: Sarpedang (Payung Kamutar), Baruwayat (Keris Kamutar), Cilo Kamutar (mahkota kebesaran), Badong (simbol kepatuhan dan pengayoman), Kantar (Perisai Kemutar simbol perlindungan), Long Barora (Tombak Kamutar).

Sedangkan Regalia Harian (Parewa Tokal Adat Ode) merupakan regalia perlengkapan harian yang digunakan Sultan yang terdiri dari: Pakebas (kipas), Sakaras (tempat sirih pinang), Namo (tempat air), Cere (Ceret), Panyomo Lati (tempat berludah), dan Salepa (tempat rokok). Secara keseluruhan, benda-benda pusaka ini selalu dihadirkan dalam Upacara Tokal Adat Kesultanan Sumbawa.

BACA JUGA  Lestarikan Tradisi yang Hampir Punah, Karantina Pertanian Sumbawa Lomba "Tepi Loto"

Prosesi Adat Genris Pusaka ini dipimpin langsung oleh H. Suparman Andung yang merupakan petugas khusus yang secara turun-temurun melakukan paboat aji dalam hal genris pusaka ini.

Dalam memperlakukan benda-benda ini kita juga tidak bisa asal Asalan karena ada tata cara yang harus dipenuhi, misalnya saat dibawa pusaka-pusaka ini harus dibawa oleh petugas khusus dan harus dalam posisi dipangku. Tidak boleh diletakkan dibawah kursi dan sebagainya.

“Benda-benda pusaka warisan turun temurun ini harus kita jaga dan kita lestarikan. Hati kita harus bersih, tenang dan dapat dikendalikan, tidak boleh ada amarah, kesombongan, dan iri hati. Tata cara ini yang harus dipertahankan. Kesultanan biasanya melakukan genris pusaka ini di bulan Muharram atau pada saat-saat tertentu ketika ada acara di Kesultanan,” ungkap H. Man akrab dipanggil. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.